Sejarah Kampung adat Prai Ijing

Terbentuknya Kampung Adat Prai Ijing di tandai dengan kedatangan empat suku yang mendiami Kampung Adat Prai Ijing yaitu suku wola, suku wejewa, suku weelawa, suku tambe/wanokalada. Saat itu Kampung Adat Prai Ijing dipimpin oleh seorang kepala suku bernama Tua Pati Wedo. Selanjutnya dari keempat suku tersebut bertambah lagi lima suku yaitu, suku weelaingo, suku wee nebi, suku tanabi, suku wee tapala, suku wee bole, suku weelowo. Suku tersebutlah yang mendiami Kampung Adat Prai Ijing hingga saat ini. 

Prai Ijing sendiri berasal dari kata Prai” yang berarti kampung dan “Ijing” yang berarti buah kedondong hutanNama tersebut diambil karena kampung ini memiliki banyak pohon kedondong hutan.

Filosofi

1. Rumah Adat

Filosofi rumah adat berdasarkan bagian rumah terdiri atas 3 lantai dimana pada Lantai bawah (Salikabunga): Melambangkan penyatuan dengan alam dan digunakan untuk memelihara hewan ternak, Lantai tengah (Rongu uma): Ruang tinggal untuk kehidupan sehari-hari manusia, dan Lantai atas (Uma daluku / Uma dana): Untuk menyimpan bahan makanan dan benda pusaka. Bagian ini juga dipercaya sebagai tempat arwah leluhur bersemayam dan mengawasi keturunannya. Filosofi lainnya berdasarkan kepercayaan Marapu : yaitu  Rumah adat ini adalah manifestasi keyakinan masyarakat Sumba yang memuja arwah leluhur (Marapu) yang diyakini selalu mengawasi kehidupan manusia, Menara tinggi :  Bentuk atap yang menjulang melambangkan hubungan vertikal antara manusia di bumi dengan dunia spiritual di atasnya. Keseimbangan hidup: Seluruh struktur rumah secara keseluruhan mencerminkan konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. 

2. Batu Kubur

Batu kubur di Prai Ijing, Sumba, terkait erat dengan kepercayaan Marapu, yaitu tentang kehidupan setelah kematian dan penghormatan terhadap leluhur. Batu kubur, termasuk sarkofagus, melambangkan perahu yang membawa arwah menuju dunia roh (Marapu) dan juga berfungsi sebagai penanda status sosial. Selain itu, batu kubur ini menjadi pengingat akan siklus kelahiran dan kematian, yang mendorong manusia untuk hidup lebih baik agar mendapat tempat yang layak di kehidupan setelah kematian.

Makna filosofis batu kubur:

  • Perahu menuju dunia roh: Batu kubur, terutama sarkofagus, diyakini sebagai “perahu roh” yang akan membawa roh orang yang meninggal berlayar ke dunia arwah. 
  • Penanda status sosial: Ukuran, kerumitan, dan tinggi batu kubur mencerminkan status sosial orang yang dimakamkan di dalamnya, yang dihormati oleh Masyarakat.
  • Pengingat akan kehidupan dan kematian: Keberadaan batu kubur menjadi pengingat bahwa hidup hanyalah sementara dan mendorong orang untuk berbuat baik agar mendapatkan tempat yang layak di akhirat. 
  • Penyambung hubungan antara yang hidup dan mati: Batu kubur berfungsi sebagai penghubung antara keluarga yang masih hidup dengan arwah leluhur yang dihormati, serta menjadi tempat berkumpul untuk mengadakan upacara adat. 

3. Wulla Poddu

Ritual ini adalah bulan suci yang berlangsung selama sebulan penuh (Oktober-November), dengan pantangan tertentu, dan dianggap sebagai perwujudan rasa syukur, perenungan spiritual, serta pendewasaan karakter generasi muda. Dalam bahasa Sumba, “Wulla” berarti bulan, dan “Poddu” berarti pahit. Jadi secara harfiah, Wulla Poddu berarti bulan pahit, bulan yang dijalani dengan berbagai pantangan, refleksi spiritual, dan penghormatan kepada leluhur. 

Makna filosofis

  • Rasa syukur dan kedamaian: Ritual ini adalah bulan damai dan memaafkan satu sama lain, serta menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Warga merenungkan apa yang telah terjadi selama setahun lewat puasa dan perenungan spiritual yang mendalam.
  • Kelahiran manusia: Wulla Poddu berkaitan erat dengan filosofi kelahiran manusia dan asal-usul kehidupan, di mana syair adat menceritakan kembali kisah penciptaan. Hal ini sering kali menjadi pusat perhatian dalam pelaksanaan ritual di malam hari. 
  • Hubungan dengan alam dan leluhur: Ritual ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam, leluhur, dan sesama melalui berbagai upacara seperti persembahan dan ritual. 
  • Pendidikan dan pewarisan budaya: Wulla Poddu adalah sarana pendidikan budaya yang kaya nilai moral dan spiritual, dengan syair dan cerita leluhur yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Ritual ini juga membentuk karakter generasi muda melalui proses seperti sunatan dan pengasingan, sebagai bagian dari pendewasaan. 

Meskipun Wulla Poddu merupakan ritual umum di Sumba Barat, pelaksanaannya di Prai Ijing memiliki keunikan tersendiri karena Prai Ijing adalah salah satu kampung adat yang masih menjaga kelestarian budaya secara turun-temurun. Wisatawan dapat menyaksikan dan merasakan langsung ritual ini (dengan izin dan pemandu lokal) yang melibatkan berbagai tahapan seperti penentuan bulan suci, pantangan, perburuan, dan ritual persembahan kepada Marapu.

Scroll to Top