
Di Prai Ijing, kampung adat di Sumba, setiap tamu bukan hanya menjadi pelancong, tapi juga bagian dari ritus, tradisi, dan kehormatan. Di sinilah adat, alam, dan kepercayaan kuno bernama Marapu menyatu dalam kehidupan sehari-hari yang nyaris tak tersentuh modernitas.
Di rumah panggung, para tamu diajak mencicipi nasi kacang, sayur ubi tumbuk, hingga ayam kampung berkuah santan—dimasak di tungku sederhana dengan asap yang menjadi pengawet alami. Di ruang yang sama, tersimpan kepercayaan bahwa arwah leluhur duduk di gelang rumah, mengawasi segala yang terjadi. Keunikan arsitektur ini bukan semata soal bentuk, melainkan juga bagian dari kosmologi lokal yang sarat makna dan pantangan.
Meski telah memeluk agama-agama besar, masyarakat tetap menjunjung tinggi Marapu. Ritual-ritual seperti Pukul Gong, batu kubur megalitik, dan upacara potong ayam dengan membaca usus tetap dijalankan hingga kini. Marapu tak hanya menjadi sistem kepercayaan, tapi juga panduan hidup yang menjaga keseimbangan dengan alam, leluhur, dan sesama.
Bagaimana kekuatan tradisi ini tetap bertahan di tengah geliat pariwisata dan arus digital? Ketika anak-anak muda kampung mulai belajar mempromosikan keindahan dan adat mereka lewat media sosial, Prai Ijing sedang menapaki dua dunia: menjaga akar, sambil membuka jendela ke luar.